18 Oktober 2000

Menutup buku pendidikan Orde Baru

Oleh : Yonathan Rahardjo

Kekurangan terberat pendidikan peninggalan Orde Baru yang mencetak manusia Indonesia 'melempem' terletak pada tidak adanya pendidikan lingkungan.

Masyarakat, khususnya para ahli pendidikan gerah. Kegagalan bangsa Indonesia dalam mengelola kekayaan alam yang melimpah ruah, dan hanya menjadikan dirinya cu-ma sebagai 'sapi perahan' negara-negara maju memunculkan berbagai kritik pada pendidikan yang mencetak orang-orang Indonesia yang 'melempem' yang sok siap menerima tawaran
bertarung di persaingan global, padahal daya saingnya rendah.

Dituding, dalam sistem pendidikan kita, terjadi salah paham dan kerancuan memaknakan kurikulum hanya sebagai materi pelajaran. Sehingga anak didik diberi beban materi pelajaran yang menggunung tanpa memperhatikan keterbatasan alokasi kepentingan dengan faktor-
faktor kurikulum yang lain. Materi pelajaran sebetulnya, tak lebih hanya satu bagian dari delapan faktor kurikulum yaitu: aspek filosofis pendidikan, tujuan, materi ajar, metode, guru, murid, dan fasilitas. Pembaruan kurikulum dengan menambah atau menyederhanakan
materi ajar merupakan jenis pengurangan terhadap kurikulum sendiri. "Kritik terhadap kurikulum harus ditujukan kepada keseluruhan sistem pendidikan," kata berbagai pihak ahli.

Salah Orientasi Sudah Mengakar

Munculnya kesadaran masyarakat terutama para ahli pendidikan memberi arti, pendidikan tak dapat diperbaiki dalam waktu singkat. Mengapa? Karena pendidikan sudah begitu mengakar dalam kekurangan itu sepanjang masa orde baru yang berideologi keras sebagai ideologi
pembangunan, sehingga paradigma pendidikan nasional pun dikembangkan ke arah paradigma pembangunan nasional.

Orientasi dari paradigma pembangunan itu adalah pada ekonomi, kemajuan teknologi, pesatnya industrialisasi, individualisasi, dan sekularisasi, yang melahirkan perombakan teori-teori ekonomi, teori-teori negara, dan pola tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan kepentingan manusia lebih dari kemanusiaannya.

Logika ekonomi teknologis, orientasi kebendaan, materialistis, menjadi gaya hidup. Masyarakat hanya dinilai berhasil bila pertumbuhan ekonomi rata-rata naik. Bahkan perbuatan baik apapun
hanya dihargai bila bernilai ekonomi produktif dan dapat dimanfaatkan bagi kehidupan praktis secara teknis.

Menutup Buku Pendidikan Orde Baru?

Jika hal itu terus berlanjut, maka akan timbul persoalan dalam kesahihan keputusan pemerintah tentang pemberlakuan kurikulum-kurikulum pendidikan. Masalahnya, keputusan dan penerapan kurikulum yang telah merasuk ke dalam segenap unsur pendidikan, mulai dari
menteri hingga guru-guru pengajar di lapangan telah terpola secara homogen, sama saja. Sebagian melakukan pola itu, yang lain secara rombongan melakukan di tiap komunitasnya, tentu sulit diubah.

Keadaan ini membuat upaya menutup buku pendidikan Orde Baru untuk memulai orde yang lebih baik, menjadi sulit. Ketegaran sikap pemerintah Orde Reformasi yang melanjutkan kurikulum pendidikan lama (bahkan semakin menambah beban dengan materi-materi program link and match) menjadi pengukuh, bahwa hasil pendidikan Orde Baru seolah tidak bersalah dalam membentuk bangsa yang mudah terpuruk menghadapi tekanan bangsa asing. Sebut saja era penjajahan modern WTO (World Trade Organization), IMF (International Monetary Fund) yang dengan mudah membuat negara maju mendikte setiap kebijakan pemerintah dalam
kesepakatan-kesepakatan yang melibatkan pengelolaan sumberdaya alam Indonesia.

Jalan Buntu

Kesadaran terhadap kekurangan segala aspek pendidikan selama masa orde baru yang me-minta sikap baru dalam membuat peluang menyelesaikan persoalan-persoalan pendidikan dalam suatu kurikulum penyelamat menemui jalan buntu. Karena pandangan terhadap orientasi
pendidikan yang masih untuk mengejar gelar, mencari kerja, dan meningkatkan status di masyarakat merupakan bagian dari pelestarian budaya feodal dimana uang dan ekonomi menjadi tolok ukur atau standar penilaian.

Bagi produk pendidikan seperti ini, apa yang dilakukan selama ini diyakini sebagai sebuah kebenaran, dan di titik inilah pusat persoalan. Seperti nasib Rahwana dalam lakon Ramayana, "kebenaran" pola pikir pendidikan macam ini tak pernah mati kendati tubuhnya terjepit oleh dua bukit batu yang masif. Bahkan, persis bagaikan babak akhir cerita Valmiki itu, dapat dibayangkan bagaimana gelembung-gelembung pengaruh juga akan diproduksi oleh "kebenaran" pendidikan yang berorientasi ekonomi, menyebar melalui dimensi ruang dan waktu, untuk memunculkan kader-kader baru di masa datang.

Suratan Takdir

Barangkali ini sudah suratan takdir, bila bangsa ini selalu harus memikirkan "ekonomi sempit". Karena serbuan barang konsumsi tak pernah terkendali, maka apapun dilakukan untuk sekedar bisa menikmati tawaran negara-negara maju yang sekian langkah sudah memimpin di depan dalam hal produksi dan Indonesia cuma menjadi pasar konsumen yang paling luas dan empuk.

Bangsa Indonesia mungkin harus selalu cemas akan kemunculan generasi-generasi baru yang atas nama membangun kesejahteraan, merasa berhak untuk membuat kurikulum materialistik, dengan memendam dulu hak asasi untuk mengenal lebih jauh maksud alam dengan segenap
konektivitasnya, dalam alam mikro (diri sendiri), alam meso (lingkungan sekitar), dan alam makro (semesta raya).

Babak Baru

Dalam konteks pemikiran seperti inilah penuntasan kasus kegagalan produk pendidikan Orde Baru dalam mencetak manusia-manusia tangguh yang seimbang dalam berekonomi sekaligus tidak meninggalkan nilai-nilai non ekonomi menjadi terasa begitu penting. Seandainya saja
Tuhan memberkati kita dengan kemampuan untuk mengaku salah, bertobat, dan meminta pengampunan kepada segenap generasi yang ada, banyak masalah pendidikan akan segera menemui jalan terang. Ini akan menjadi katarsis bagi seluruh bangsa, dan peluang perbaikan
pendidikan nasional pun akan terbuka lebar. Sebuah babak yang banyak kelamnya akan ditutup dengan selayaknya, dan babak baru yang menjanjikan pencerahan, dapat dimulai dengan kepala tegak dan hati yang lapang. Kita dapat berharap banyak terhadap kemungkinan ini karena kita tahu pasti munculnya ide-ide pemikiran brilian dan besar justru muncul dari para pemikir yang senantiasa membuat korelasi tak terpisahkan dari alam mikro, meso dan makro tadi. Katakanlah filsuf-filsuf Yunani yang melahirkan filsafat sebagai dasar dari segala ilmu pengetahuan yang ada adalah telaah terhadap alam dan gejala-gejala yang ditampakkannya.

Mereka, para filsuf tadi, bisa dikatakan menciptakan dasar dari segala ilmu murni yang ada, yang berkembang meluas dalam berbagai bentuk ilmu terapan. Ironisnya, dalam konteks pendidikan demi uang di negeri ini, pengajaran ilmu murni, apalagi dasar dari ilmu murni
ini, terlempar jauh dalam pengucilan dibandingkan dengan pengajaran ilmu terapan yang menjadi idola. Alasannya, ilmu murni apalagi ilmu filsafat tak bisa memberi jaminan pekerjaan, tak sejalan dengan pandangan dunia, masyarakat yang terpacu mengejar pencapaian ekonomi. Padahal, nilai-nilai yang terkandung dalam pengajaran filsafat yang diikuti dengan ilmu-ilmu murni itu tetap saja bisa diaplikasikan dalam setiap ilmu terapan, tanpa meninggalkan nilai-
nilai filosofi-nya, bila konektivitas setiap ilmu dengan ilmu lainnya dirangkai dalam suatu rantai pemahaman bah-wa satu bagian dengan bagian yang lain, apapun itu bidang terapannya, tak akan pernah bisa lepas dari kondisi saling mempengaruhi.

Maka, alternatif penuntasan pendidikan yang bisa saling mengisi antara nilai pendidikan praktis aplikatif dengan nilai hakiki yang membentuk kesadaran dan perilaku yang lebih memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak dihegemoni cuma oleh nilai-nilai ekonomi, menjadi mendesak untuk diterapkan.

Bukan Pendidikan Mati

Satu model pendidikan yang menerapkan pola keterkaitan antara nilai-nilai aplikatif dan nilai-nilai filosofinya dalam keterkaitan segenap bidang kehidupan yang ada, barangkali tidak ada pilihan lain di luar pendidikan langsung terhadap apa yang dikatakan alam. Ekonomi boleh saja menjadi pendidikan mandiri, tetapi bila ia tak punya pengaruh terhadap kemampuan manusia dalam menghadapi kehidupan yang tak cuma membutuhkan sentuhan materi, maka ilmu ekonomi ini menjadi senjata penghancur manusia yang lebih bersifat materialis.

Demikian juga dengan pendidikan matematika, biologi, fisika, bahkan terapan-terapannya macam pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, kedokteran hewan. Bila semua jenis pendidikan ini hanya dikonsentrasikan cukup pada disiplin ilmunya, maka akan menjadi
pendidikan mati yang hanya mencetak orang dengan egosentris yang akan membela mati- matian bidang kerja sesuai dengan latarbelakangnya, tanpa mempedulikan apakah bidang itu merusak bidang lain bahkan hubungan di antaranya.

Pendidikan Manusia, Pendidikan Lingkungan

Diakui atau tidak, pendidikan yang dapat mengkombinasikan semua unsur pendidikan yang terkait satu sama lain adalah pendidikan lingkungan hidup. Bahwa pendidikan lingkungan hidup bukan hanya bermaksud untuk mencipta manusia yang mau menjaga kelestarian
lingkungannya. Tapi yang lebih penting, pendidikan lingkungan hidup justru merupakan pendidikan yang menjadikan manusia mengetahui hakikat kemanusiaannya, setelah mempelajari semua unsur lingkungan secara terkait sebagai satu kesatuan yang tidak terkotak-kotakkan, mempelajari hubungan-hubungannya dan pengaruh-pengaruhnya.

Dari pendidikan lingkungan itu, manusia akan tahu bahwa ternyata yang diperlukan bukanlah cuma mengejar ekonomi dan mencari status, sebagai tujuan akhir sempit. Tetapi sikap berdaya manusia dengan segala nilai kemanusiaannya untuk secara sadar tahu hanya bagian kecil dari lingkungan, apa yang dilakukannya terhadap satu unsur dari lingkungan akan senantiasa berpengaruh bagi bagian dan keseluruhan lingkungannya. Pemikiran semacam ini bisa mendesaknya untuk berdaya dan terbebas dari tekanan materialisme semata.

Dengan konsep semacam ini, produk pendidikan lingkungan akan terpacu untuk bisa melakukan pengelolaan ekonomi dan non ekonomi secaralebih seimbang dan harmonis. Akan berdampak juga pada pengelolaan lingkungan hidup dan kekayaan Indonesia secara berkelanjutan, yang
dengan sendirinya memberi dampak perbaikan ekonomi dan kesejahteraan hidup secara berkesinambungan, tanpa harus melalui jalan pintas untuk mengeruk ekonomi sebesar-besarnya dan terpuruk tanpa bisa tahu kelanjutan dan kesinambungannya.

Begitulah, pendidikan menjadi persoalan ketika ditemui beragam kekurangannya. Namun yang lebih memprihatinkan, justru saat kita tak tahu kekurangannya. Dan agaknya kita kurang menyadari bahwa kekurangan terberat pendidikan peninggalan Orde Baru yang mencetak
manusia Indonesia 'melempem' tadi justru terletak pada tidak adanya pendidikan lingkungan ini. Apakah kita mau mengulanginya kembali?

**

dimuat di Berita Bumi/KONPHALINDO), 2000.

Sphere: Related Content