13 Februari 2000

Ideologi koran sastra dan Pramoedya

13 Feb 2000 05:25:42 am
Ideologi Koran Sastra dan Pramoedya



  • Mulyadi J. Amalik, Sriwijaya Post, 13/2/2000

Quote :

... Akhirnya, dalam buku ini penulisnya mencoba menguraikan bagaimana Pram mencoba membagi periodisasi sastra Indonesia sehingga menjadi 9 tahap. Tahap-tahap itu ialah, tahap sastra asimilatif (sastra berbahasa Melayu-kerja), sastra gatra (sastra sosialistik, dan mulai muncul pers berbahasa Melayu), sastra formalis (Balai Pustaka), sastra nasionalis dalam periode sastra formalis (berciri nasionalis-individual), sastra Pujangga Baru (periode maraknya bahasa Melayu-sekolah, dan lalu menjadi cikal-bakal bahasa Indonesia), sastra periode jarak dan kapas (periode pendudukan Jepang), sastra borjuis patriotik (masa revolusi kemerdekaan RI), sastra borjuis dekaden (periode yang ditandai oleh Konferensi Meja Bundar), dan sastra realisme sosialis (masa pergerakan Lekra)...


PERDEBATAN ideologi antara kubu Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dengan kubu Manifes Kebudayaan (Manikebu) tidak bisa dilepaskan dari peran koran atau majalah sastra. Dalam konteks ini, tentu saja koran/majalah pada masa itu (1960-an) yang bersifat partisan terhadap ideologi atau partai tertentu secara tegas.

Pramoedya Ananta Toer adalah pengelola halaman sastra koran Bintang Timur - rubrik Lentera - yang merupakan ujung panah kubu Lekra, di mana koran tersebut merupakan koran partisan PKI. Di rubrik Lekra itulah, Pram dan kawan-kawannya mempromosikan kredo sastra realisme sosialis. Kelompok Manifes yang diporoskan pada HB Jassin dan Wiratmo Soekito, mengelola majalah Sastra, menganut humanisme universal dan bersikap non-partisan terhadap partai-partai yang ada. Soal pratisan dan non-partisan inilah yang kemudian menjadi titik debat berikutnya berkaitan dengan pers dan sastra perlawanan. Intinya, kubu Lekra menuntut kejelasan ideologi yang memihak rakyat, sedangkan kubu Manifes menganggap, "Setiap sektor kebudayaan tidak lebih penting dari sektor yang lain, dan karenanya harus berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya."

Titik pandang berikutnya terletak pada tujuan kesenian. Realisme sosialis, menurut kubu Lekra, meletakkan "kenyataan dan kebenaran" yang lahir dari "pertentangan-pertentangan yang berlaku di dalam masyarakat maupun di dalam hati manusia" sebagai dasar material kesenian. Dari situ, akan terlihat sejumlah gerak maju dan "hari depan" manusia. Dengan demikian, berlaku kesimpulan bahwa "seni untuk rakyat". Kubu Manifes sendiri memaparkan humanisme universal sebagai "perjuangan kebudayaan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia".

Dengan demikian, berkesenian berarti melaksanakan Kebudayaan Nasional dan "berusaha mencipta dengan kesungguhan yang sejujur-jujurnya sebagai perjuangan untuk mempertahankan dan mengembangkan martabat diri ... sebagai bangsa Indonesia di tengah-tengah masyarakat bangsa-bangsa". Inilah dasar material kesenian kubu Manifes. Dengan demikian, berlaku kesimpulan bahwa "seni untuk (nilai) kemanusiaan".

Perdebatan dua kubu di atas meruncing saat-saat mendekati peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Sisi gelap dari perseteruan dua kubu ini, di sini terletak dalam "caci maki atas privacy" oleh masing-masing pihak. Kiranya bagian ini yang tidak boleh terulang bila perdebatan itu mau dihidupkan kembali.

BUKU ini menyajikan secara ringan bagaimana perjalanan Pram bersama gerakan kesenian realisme sosialisnya. Sudut analisis penulis 90% dititikberatkan pada perspekif Lekra, termasuk dalam menilai kubu Manifes. Buku ini cocok disandingkan dengan buku Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensi Lekra/PKI Dkk susunan DS Moeljanto dan Taufiq Ismail, terbitan Mizan dan HU Republika tahun 1995.

Dalam buku ini, Pram tidak dilihat dari metode kritik sastra, tetapi metode filsafat sejarah berkaitan dengan perjalanan karya sastranya. Secara biografis, Eka Kurniawan, penulis muda yang baru berumur 24 tahun (lahir 1975) ini, memaparkan bahwa masuknya realisme sosialis ke Indonesia berkait erat dengan keberadaan Lekra dan PKI. Sekitar tahun 1950-an, beberapa seniman kiri menemui Nyoto (tokoh senior PKI) untuk menyatakan peranan seni dalam perjuangan kelas. Nyoto menganjurkan pemaduan antara tradisi-tradisi bessar dari realisme kritis dengan romantisme. Realisme akan menggelar realitas alam dan masyarakat, dan romantisme akan menunukkan bahwa ada perubahan-perubahan yang terjadi secara revolusioner (h.21). Di Indonesia, realisme sosialis dikembangkan oleh Lekra atas dasar keberpihakan kepada rakyat daripada atas logika marxisme. Kedekatan realisme sosialis dengan marxisme terletak pada semangat, kesamaan perjuangan, dan pilihan hidup. Tidak terbukti bahwa hubungan keduanya merupakan hubungan organisatoris meskipun banyak anggota Lekra juga anggota PKI (h.20).

Dalam tradisi seni, kapan realisme sosialis muncul? Tidak pasti. Menurut Pram, muncul sekitar tahun tahun 1905. Maxim Gorki, sastrawan Rusia, sering dianggap sebagai "bapak pendiri realisme sosialis" yang ditandai oleh novel-novelnya: My Childhood, My Appreticheship, dan My Universities. Novel-novel ini bersandar kuat pada realitas yang semi-otobiografi, pemaknaan realitas sebagai proses dialektika, dan tujuan kepada proses kebenaran. Jadi, realitas bukan tujuan.

Istilah realisme sosialis sendiri baru muncul 30 tahun kemudian melalui pernyataan Andrei Zdanov di hadapan Kongres I Sastrawan Sovyet di Moskow tahun 1934 (.10-11). Maxim Gorki inilah yang menjadi inspirator karya-karya Pram, selain Zode Zielen, John Steinbeck, dan William Sorayan (h.17). Pram sendiri mengaku tidak pernah membaca atau mempelajari karya-karya Marx, namun filsafat marxis - secara garis besar - dapat dikatakan sebagai dasar-dasar material metode realisme sosialis sehingga menjadi sebuah aliran seni marxis. Walaupun Karl Marx pernah giat menulis puisi, tidak ada karya-karya Marx dan Engels yang menyinggung soal estetika kesenian.

Akhirnya, dalam buku ini penulisnya mencoba menguraikan bagaimana Pram mencoba membagi periodisasi sastra Indonesia sehingga menjadi 9 tahap. Tahap-tahap itu ialah, tahap sastra asimilatif (sastra berbahasa Melayu-kerja), sastra gatra (sastra sosialistik, dan mulai muncul pers berbahasa Melayu), sastra formalis (Balai Pustaka), sastra nasionalis dalam periode sastra formalis (berciri nasionalis-individual), sastra Pujangga Baru (periode maraknya bahasa Melayu-sekolah, dan lalu menjadi cikal-bakal bahasa Indonesia), sastra periode jarak dan kapas (periode pendudukan Jepang), sastra borjuis patriotik (masa revolusi kemerdekaan RI), sastra borjuis dekaden (periode yang ditandai oleh Konferensi Meja Bundar), dan sastra realisme sosialis (masa pergerakan Lekra).

Terlepas dari setuju atau tidak, pastinya bahwa Pram adalah juga anak sejarah sastra Indonesia. Meminjam Maxim Gorki, maka kesadaran atas sejarahnya itulah yang membuat Pram selalu ingin berubah.



Category : Review Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis | Posted By : (e-k) | Comments [0] | Trackbacks [0]


04 Sep 1999 05:10:24 am
Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis



  • Aksara Indonesia, 1999
  • Penerbit Jendela, 2002
  • Gramedia Pustaka Utama, 2006



Ditulis dengan rapi dan terang, telaah Eka Kurniawan menampilkan lintasan sejarah ide “realisme sosialis” dalam polemik yang berlangsung di Uni Soviet di tahun 1920-an sampai dengan tahun 1930-an, menjelang dan sesudah ia dirumuskan. Disinggung pula bagaimana “realisme sosialis” diterima di RRC di bawah Mao Zhe-dong. Terlebih lagi, dalam buku ini kita akan mendapatkan pandangan teoritikus Marxis terkenal, Grigory Lukacs dan salah satu pendiri Partai Komunis yang cemerlang, Leon Trotsky, yang bertentangan dengan “realisme sosialis” yang diresmikan Stalin – satu hal yang tak disebut, apalagi diperbincangkan, Pramoedya. Dalam arti ini, buku Eka Kurniawan bisa jadi pelengkap risalah yang disusun Pramoedya, yang hampir sepenuhnya mengikuti garis rumusan Zhdanov, pejabat tinggi Partai, besan, dan juru sensor Stalin.
(Goenawan Mohamad)


"Realisme sosialis itu sendiri bukan hanya penamaan satu metode di bidang sastra, tapi lebih tepat dikatakan satu hubungan filsafat, metode penggarapan dengan apresiasi estetiknya sendiri. Penamaan satu politik estetik di bidang sastra yang sekaligus juga mencakup kesadaran adanya front, adanya perjuangan, adanya kawan-kawan sebarisan dan lawan-lawan di seberang garis, adanya militansi, adanya orang-orang yang mencoba menghindari diri dari front ini untuk memenangkan ketakacuhan."
(Pramoedya Ananta Toer)


"Apa harus membaca karya-karya sastra untuk membahas realisme sosialis, kan cukup baca Eka Kurniawan (skripsi tentang realisme sosialis-Red)?"
(dari Kompas, Minggu 27 Juli 2003, Dari Musik Terbang Banjari sampai Realisme Sosialis dengan Becak Wisata Solo)



Category : Book | Posted By : (e-k) | Comments [0] | Trackbacks [0]


12 Aug 1999 10:36:03 am
About Eka Kurniawan



[English] Eka Kurniawan was born in Tasikmalaya, Indonesia, 1975. He studied philosophy at Gadjah Mada University, Yogyakarta. He works as journalist, writer and designer. He writes novels, short stories, movie scripts and graphic novel, as well as essay. His works including Cantik itu Luka (Beauty the Scar, 2002), Lelaki Harimau (Tigerman, 2004), Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya (Laughable Sadness and Other Stories, 2005), and Cinta tak ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya (Love ain't Mortal and Other Stories, 2005). Now he is working on his graphic novel debut.

[Dutch] Eka Kurniawan werd geboren in Tasikmalaya, Indonesie, in 1975. Hij studeerde filosofie aan de Gadjah Mada Universiteit in Jogyakarta. Hij is werkzaam als journalist, grafisch ontwerper en maakt stripboeken. Hij schreef Cantik itu Luka (Deze schoonheid is verwond, 2002), Lelaki Harimau (Mannetjestijger, 2004), Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya (Droevig gelach en andere verhalen, 2005) and Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya (2005). Momenteel werkt hij aan zijn eerste beeldroman, in samenwerking met twee andere ontwerpers.




Category : About | Posted By : (e-k) | Comments [0] | Trackbacks [0]


11 Aug 1999 10:24:21 am
Tentang Eka Kurniawan


BIOGRAFI
Eka Kurniawan lahir 1975. Menghabiskan masa kecil bersama keempat kakek-neneknya di sebuah desa di Tasikmalaya sebelum tinggal bersama orang tuanya di kota pantai Pangandaran. Bersama keluarganya, ia pernah juga tinggal di tepian perkebunan karet tak jauh dari kota Cilacap. Ketiga tempat masa kecilnya, merupakan latar belakang yang banyak dipergunakan sebagai setting untuk karya-karyanya, seperti Cantik itu Luka atau Lelaki Harimau. Tahun 1993 ia tinggal di Yogyakarta untuk mengikuti studi di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada yang diselesaikannya tahun 1999. Ia juga pernah mengenyam pendidikan grafis di Visi Art & Graphic Design School Yogyakarta tahun 1995. Selain menulis, ia juga jurnalis dan desainer grafis. Kini ia tinggal di Jakarta bersama istrinya, novelis Ratih Kumala (menikah tahun 2006).

BIBLIOGRAFI
What's a Sunday?, 1998, sebuah karya komik berkolaborasi dengan Agung Arif Budiman dan Andy Seno Aji. Pada tahun 1998, mereka bertiga mendirikan kelompok komik KOMIKAZE, di antaranya membuat selebaran dalam bentuk komik. Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (1999), awalnya merupakan skripsi dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, kemudian diterbitkan oleh Yayasan Aksara Indonesia, diterbitkan kembali oleh Jendela (2002) dan Gramedia Pustaka Utama (2006). Corat-coret di Toilet (2000), sebuah kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh Yayasan Aksara Indonesia. Buku ini beberapa tahun kemudian diterbitkan dalam Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya. Cantik itu Luka (2002), sebuah novel yang pada awalnya berjudul O Anjing. Setelah beberapa kali ditolak oleh penerbit, akhirnya ia memperoleh beasiswa penulisan novel dari Akademi Kebudayaan Yogyakarta, yang bersama Penerbit Jendela akhirnya menerbitkan novel tersebut. Novel ini dicetak kembali oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2004. Tahun 2003, masuk sepuluh besar Khatulistiwa Literary Award, saat ini sedang diusahakan penerjemahan ke dalam bahasa Belanda dan Inggris. Lelaki Harimau (2004), sebuah novel, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, masuk sepuluh besar Khatulistiwa Literary Award. Ia kembali memperoleh nominasi sepuluh besar Khatulistiwa Literary Award untuk buku Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya (2005), yang terbit bersama dengan buku Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya (2005). Ia juga mengadaptasi sebuah film ke dalam bentuk novel pendek berjudul Gerbang 13 (2005). Novel ketiganya, kemungkinan besar terbit di awal tahun 2007. Kini ia tengah mempersiapkan debut novel grafisnya.

TERJEMAHAN
Cantik itu Luka, diterjemahkan oleh Ribeka Ohta ke dalam bahasa Jepang, Bi Wa Kizu, diterbitkan oleh Shinpusha, akhir 2006; diterjemahkan oleh Mikael Johani ke dalam bahasa Inggris; dan sedang diusahakan penerbitanya dalam bahasa Belanda. Selain itu, beberapa cerita pendeknya juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Swedia: Cinta Tak Ada Mati (oleh Stefan Danarek) dan bahasa Inggris: Kutukan Dapur (Margaret-Glade Agusta), Pengakoean Seorang Pemadat Indies (Astrid Reza), dan Lesung Pipit (Lie Hua).

Selain itu, Eka Kurniawan juga telah menerjemahkan beberapa karya penulis asing ke dalam bahasa Indonesia: Pemogokan (Maxim Gorky), Metamorfosa (Franz Kafka), Cannery Row (John Steinbeck), dan Cinta dan Demit-demit Lainnya (Gabriel Garcia Marquez).

PARTISIPASI

  • Winternachten - International Literature Festival The Hague (Den Haag, Belanda, 2006)
  • Ubud Writers & Readers Festival (Ubud, Bali, 2005)
  • Biennal Sastra International (Komunitas Utan Kayu, Bandung, 2005)

Sphere: Related Content