18 Oktober 2000

Menutup buku pendidikan Orde Baru

Oleh : Yonathan Rahardjo

Kekurangan terberat pendidikan peninggalan Orde Baru yang mencetak manusia Indonesia 'melempem' terletak pada tidak adanya pendidikan lingkungan.

Masyarakat, khususnya para ahli pendidikan gerah. Kegagalan bangsa Indonesia dalam mengelola kekayaan alam yang melimpah ruah, dan hanya menjadikan dirinya cu-ma sebagai 'sapi perahan' negara-negara maju memunculkan berbagai kritik pada pendidikan yang mencetak orang-orang Indonesia yang 'melempem' yang sok siap menerima tawaran
bertarung di persaingan global, padahal daya saingnya rendah.

Dituding, dalam sistem pendidikan kita, terjadi salah paham dan kerancuan memaknakan kurikulum hanya sebagai materi pelajaran. Sehingga anak didik diberi beban materi pelajaran yang menggunung tanpa memperhatikan keterbatasan alokasi kepentingan dengan faktor-
faktor kurikulum yang lain. Materi pelajaran sebetulnya, tak lebih hanya satu bagian dari delapan faktor kurikulum yaitu: aspek filosofis pendidikan, tujuan, materi ajar, metode, guru, murid, dan fasilitas. Pembaruan kurikulum dengan menambah atau menyederhanakan
materi ajar merupakan jenis pengurangan terhadap kurikulum sendiri. "Kritik terhadap kurikulum harus ditujukan kepada keseluruhan sistem pendidikan," kata berbagai pihak ahli.

Salah Orientasi Sudah Mengakar

Munculnya kesadaran masyarakat terutama para ahli pendidikan memberi arti, pendidikan tak dapat diperbaiki dalam waktu singkat. Mengapa? Karena pendidikan sudah begitu mengakar dalam kekurangan itu sepanjang masa orde baru yang berideologi keras sebagai ideologi
pembangunan, sehingga paradigma pendidikan nasional pun dikembangkan ke arah paradigma pembangunan nasional.

Orientasi dari paradigma pembangunan itu adalah pada ekonomi, kemajuan teknologi, pesatnya industrialisasi, individualisasi, dan sekularisasi, yang melahirkan perombakan teori-teori ekonomi, teori-teori negara, dan pola tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan kepentingan manusia lebih dari kemanusiaannya.

Logika ekonomi teknologis, orientasi kebendaan, materialistis, menjadi gaya hidup. Masyarakat hanya dinilai berhasil bila pertumbuhan ekonomi rata-rata naik. Bahkan perbuatan baik apapun
hanya dihargai bila bernilai ekonomi produktif dan dapat dimanfaatkan bagi kehidupan praktis secara teknis.

Menutup Buku Pendidikan Orde Baru?

Jika hal itu terus berlanjut, maka akan timbul persoalan dalam kesahihan keputusan pemerintah tentang pemberlakuan kurikulum-kurikulum pendidikan. Masalahnya, keputusan dan penerapan kurikulum yang telah merasuk ke dalam segenap unsur pendidikan, mulai dari
menteri hingga guru-guru pengajar di lapangan telah terpola secara homogen, sama saja. Sebagian melakukan pola itu, yang lain secara rombongan melakukan di tiap komunitasnya, tentu sulit diubah.

Keadaan ini membuat upaya menutup buku pendidikan Orde Baru untuk memulai orde yang lebih baik, menjadi sulit. Ketegaran sikap pemerintah Orde Reformasi yang melanjutkan kurikulum pendidikan lama (bahkan semakin menambah beban dengan materi-materi program link and match) menjadi pengukuh, bahwa hasil pendidikan Orde Baru seolah tidak bersalah dalam membentuk bangsa yang mudah terpuruk menghadapi tekanan bangsa asing. Sebut saja era penjajahan modern WTO (World Trade Organization), IMF (International Monetary Fund) yang dengan mudah membuat negara maju mendikte setiap kebijakan pemerintah dalam
kesepakatan-kesepakatan yang melibatkan pengelolaan sumberdaya alam Indonesia.

Jalan Buntu

Kesadaran terhadap kekurangan segala aspek pendidikan selama masa orde baru yang me-minta sikap baru dalam membuat peluang menyelesaikan persoalan-persoalan pendidikan dalam suatu kurikulum penyelamat menemui jalan buntu. Karena pandangan terhadap orientasi
pendidikan yang masih untuk mengejar gelar, mencari kerja, dan meningkatkan status di masyarakat merupakan bagian dari pelestarian budaya feodal dimana uang dan ekonomi menjadi tolok ukur atau standar penilaian.

Bagi produk pendidikan seperti ini, apa yang dilakukan selama ini diyakini sebagai sebuah kebenaran, dan di titik inilah pusat persoalan. Seperti nasib Rahwana dalam lakon Ramayana, "kebenaran" pola pikir pendidikan macam ini tak pernah mati kendati tubuhnya terjepit oleh dua bukit batu yang masif. Bahkan, persis bagaikan babak akhir cerita Valmiki itu, dapat dibayangkan bagaimana gelembung-gelembung pengaruh juga akan diproduksi oleh "kebenaran" pendidikan yang berorientasi ekonomi, menyebar melalui dimensi ruang dan waktu, untuk memunculkan kader-kader baru di masa datang.

Suratan Takdir

Barangkali ini sudah suratan takdir, bila bangsa ini selalu harus memikirkan "ekonomi sempit". Karena serbuan barang konsumsi tak pernah terkendali, maka apapun dilakukan untuk sekedar bisa menikmati tawaran negara-negara maju yang sekian langkah sudah memimpin di depan dalam hal produksi dan Indonesia cuma menjadi pasar konsumen yang paling luas dan empuk.

Bangsa Indonesia mungkin harus selalu cemas akan kemunculan generasi-generasi baru yang atas nama membangun kesejahteraan, merasa berhak untuk membuat kurikulum materialistik, dengan memendam dulu hak asasi untuk mengenal lebih jauh maksud alam dengan segenap
konektivitasnya, dalam alam mikro (diri sendiri), alam meso (lingkungan sekitar), dan alam makro (semesta raya).

Babak Baru

Dalam konteks pemikiran seperti inilah penuntasan kasus kegagalan produk pendidikan Orde Baru dalam mencetak manusia-manusia tangguh yang seimbang dalam berekonomi sekaligus tidak meninggalkan nilai-nilai non ekonomi menjadi terasa begitu penting. Seandainya saja
Tuhan memberkati kita dengan kemampuan untuk mengaku salah, bertobat, dan meminta pengampunan kepada segenap generasi yang ada, banyak masalah pendidikan akan segera menemui jalan terang. Ini akan menjadi katarsis bagi seluruh bangsa, dan peluang perbaikan
pendidikan nasional pun akan terbuka lebar. Sebuah babak yang banyak kelamnya akan ditutup dengan selayaknya, dan babak baru yang menjanjikan pencerahan, dapat dimulai dengan kepala tegak dan hati yang lapang. Kita dapat berharap banyak terhadap kemungkinan ini karena kita tahu pasti munculnya ide-ide pemikiran brilian dan besar justru muncul dari para pemikir yang senantiasa membuat korelasi tak terpisahkan dari alam mikro, meso dan makro tadi. Katakanlah filsuf-filsuf Yunani yang melahirkan filsafat sebagai dasar dari segala ilmu pengetahuan yang ada adalah telaah terhadap alam dan gejala-gejala yang ditampakkannya.

Mereka, para filsuf tadi, bisa dikatakan menciptakan dasar dari segala ilmu murni yang ada, yang berkembang meluas dalam berbagai bentuk ilmu terapan. Ironisnya, dalam konteks pendidikan demi uang di negeri ini, pengajaran ilmu murni, apalagi dasar dari ilmu murni
ini, terlempar jauh dalam pengucilan dibandingkan dengan pengajaran ilmu terapan yang menjadi idola. Alasannya, ilmu murni apalagi ilmu filsafat tak bisa memberi jaminan pekerjaan, tak sejalan dengan pandangan dunia, masyarakat yang terpacu mengejar pencapaian ekonomi. Padahal, nilai-nilai yang terkandung dalam pengajaran filsafat yang diikuti dengan ilmu-ilmu murni itu tetap saja bisa diaplikasikan dalam setiap ilmu terapan, tanpa meninggalkan nilai-
nilai filosofi-nya, bila konektivitas setiap ilmu dengan ilmu lainnya dirangkai dalam suatu rantai pemahaman bah-wa satu bagian dengan bagian yang lain, apapun itu bidang terapannya, tak akan pernah bisa lepas dari kondisi saling mempengaruhi.

Maka, alternatif penuntasan pendidikan yang bisa saling mengisi antara nilai pendidikan praktis aplikatif dengan nilai hakiki yang membentuk kesadaran dan perilaku yang lebih memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak dihegemoni cuma oleh nilai-nilai ekonomi, menjadi mendesak untuk diterapkan.

Bukan Pendidikan Mati

Satu model pendidikan yang menerapkan pola keterkaitan antara nilai-nilai aplikatif dan nilai-nilai filosofinya dalam keterkaitan segenap bidang kehidupan yang ada, barangkali tidak ada pilihan lain di luar pendidikan langsung terhadap apa yang dikatakan alam. Ekonomi boleh saja menjadi pendidikan mandiri, tetapi bila ia tak punya pengaruh terhadap kemampuan manusia dalam menghadapi kehidupan yang tak cuma membutuhkan sentuhan materi, maka ilmu ekonomi ini menjadi senjata penghancur manusia yang lebih bersifat materialis.

Demikian juga dengan pendidikan matematika, biologi, fisika, bahkan terapan-terapannya macam pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, kedokteran hewan. Bila semua jenis pendidikan ini hanya dikonsentrasikan cukup pada disiplin ilmunya, maka akan menjadi
pendidikan mati yang hanya mencetak orang dengan egosentris yang akan membela mati- matian bidang kerja sesuai dengan latarbelakangnya, tanpa mempedulikan apakah bidang itu merusak bidang lain bahkan hubungan di antaranya.

Pendidikan Manusia, Pendidikan Lingkungan

Diakui atau tidak, pendidikan yang dapat mengkombinasikan semua unsur pendidikan yang terkait satu sama lain adalah pendidikan lingkungan hidup. Bahwa pendidikan lingkungan hidup bukan hanya bermaksud untuk mencipta manusia yang mau menjaga kelestarian
lingkungannya. Tapi yang lebih penting, pendidikan lingkungan hidup justru merupakan pendidikan yang menjadikan manusia mengetahui hakikat kemanusiaannya, setelah mempelajari semua unsur lingkungan secara terkait sebagai satu kesatuan yang tidak terkotak-kotakkan, mempelajari hubungan-hubungannya dan pengaruh-pengaruhnya.

Dari pendidikan lingkungan itu, manusia akan tahu bahwa ternyata yang diperlukan bukanlah cuma mengejar ekonomi dan mencari status, sebagai tujuan akhir sempit. Tetapi sikap berdaya manusia dengan segala nilai kemanusiaannya untuk secara sadar tahu hanya bagian kecil dari lingkungan, apa yang dilakukannya terhadap satu unsur dari lingkungan akan senantiasa berpengaruh bagi bagian dan keseluruhan lingkungannya. Pemikiran semacam ini bisa mendesaknya untuk berdaya dan terbebas dari tekanan materialisme semata.

Dengan konsep semacam ini, produk pendidikan lingkungan akan terpacu untuk bisa melakukan pengelolaan ekonomi dan non ekonomi secaralebih seimbang dan harmonis. Akan berdampak juga pada pengelolaan lingkungan hidup dan kekayaan Indonesia secara berkelanjutan, yang
dengan sendirinya memberi dampak perbaikan ekonomi dan kesejahteraan hidup secara berkesinambungan, tanpa harus melalui jalan pintas untuk mengeruk ekonomi sebesar-besarnya dan terpuruk tanpa bisa tahu kelanjutan dan kesinambungannya.

Begitulah, pendidikan menjadi persoalan ketika ditemui beragam kekurangannya. Namun yang lebih memprihatinkan, justru saat kita tak tahu kekurangannya. Dan agaknya kita kurang menyadari bahwa kekurangan terberat pendidikan peninggalan Orde Baru yang mencetak
manusia Indonesia 'melempem' tadi justru terletak pada tidak adanya pendidikan lingkungan ini. Apakah kita mau mengulanginya kembali?

**

dimuat di Berita Bumi/KONPHALINDO), 2000.

Sphere: Related Content

13 Februari 2000

Ideologi koran sastra dan Pramoedya

13 Feb 2000 05:25:42 am
Ideologi Koran Sastra dan Pramoedya



  • Mulyadi J. Amalik, Sriwijaya Post, 13/2/2000

Quote :

... Akhirnya, dalam buku ini penulisnya mencoba menguraikan bagaimana Pram mencoba membagi periodisasi sastra Indonesia sehingga menjadi 9 tahap. Tahap-tahap itu ialah, tahap sastra asimilatif (sastra berbahasa Melayu-kerja), sastra gatra (sastra sosialistik, dan mulai muncul pers berbahasa Melayu), sastra formalis (Balai Pustaka), sastra nasionalis dalam periode sastra formalis (berciri nasionalis-individual), sastra Pujangga Baru (periode maraknya bahasa Melayu-sekolah, dan lalu menjadi cikal-bakal bahasa Indonesia), sastra periode jarak dan kapas (periode pendudukan Jepang), sastra borjuis patriotik (masa revolusi kemerdekaan RI), sastra borjuis dekaden (periode yang ditandai oleh Konferensi Meja Bundar), dan sastra realisme sosialis (masa pergerakan Lekra)...


PERDEBATAN ideologi antara kubu Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dengan kubu Manifes Kebudayaan (Manikebu) tidak bisa dilepaskan dari peran koran atau majalah sastra. Dalam konteks ini, tentu saja koran/majalah pada masa itu (1960-an) yang bersifat partisan terhadap ideologi atau partai tertentu secara tegas.

Pramoedya Ananta Toer adalah pengelola halaman sastra koran Bintang Timur - rubrik Lentera - yang merupakan ujung panah kubu Lekra, di mana koran tersebut merupakan koran partisan PKI. Di rubrik Lekra itulah, Pram dan kawan-kawannya mempromosikan kredo sastra realisme sosialis. Kelompok Manifes yang diporoskan pada HB Jassin dan Wiratmo Soekito, mengelola majalah Sastra, menganut humanisme universal dan bersikap non-partisan terhadap partai-partai yang ada. Soal pratisan dan non-partisan inilah yang kemudian menjadi titik debat berikutnya berkaitan dengan pers dan sastra perlawanan. Intinya, kubu Lekra menuntut kejelasan ideologi yang memihak rakyat, sedangkan kubu Manifes menganggap, "Setiap sektor kebudayaan tidak lebih penting dari sektor yang lain, dan karenanya harus berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya."

Titik pandang berikutnya terletak pada tujuan kesenian. Realisme sosialis, menurut kubu Lekra, meletakkan "kenyataan dan kebenaran" yang lahir dari "pertentangan-pertentangan yang berlaku di dalam masyarakat maupun di dalam hati manusia" sebagai dasar material kesenian. Dari situ, akan terlihat sejumlah gerak maju dan "hari depan" manusia. Dengan demikian, berlaku kesimpulan bahwa "seni untuk rakyat". Kubu Manifes sendiri memaparkan humanisme universal sebagai "perjuangan kebudayaan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia".

Dengan demikian, berkesenian berarti melaksanakan Kebudayaan Nasional dan "berusaha mencipta dengan kesungguhan yang sejujur-jujurnya sebagai perjuangan untuk mempertahankan dan mengembangkan martabat diri ... sebagai bangsa Indonesia di tengah-tengah masyarakat bangsa-bangsa". Inilah dasar material kesenian kubu Manifes. Dengan demikian, berlaku kesimpulan bahwa "seni untuk (nilai) kemanusiaan".

Perdebatan dua kubu di atas meruncing saat-saat mendekati peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Sisi gelap dari perseteruan dua kubu ini, di sini terletak dalam "caci maki atas privacy" oleh masing-masing pihak. Kiranya bagian ini yang tidak boleh terulang bila perdebatan itu mau dihidupkan kembali.

BUKU ini menyajikan secara ringan bagaimana perjalanan Pram bersama gerakan kesenian realisme sosialisnya. Sudut analisis penulis 90% dititikberatkan pada perspekif Lekra, termasuk dalam menilai kubu Manifes. Buku ini cocok disandingkan dengan buku Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensi Lekra/PKI Dkk susunan DS Moeljanto dan Taufiq Ismail, terbitan Mizan dan HU Republika tahun 1995.

Dalam buku ini, Pram tidak dilihat dari metode kritik sastra, tetapi metode filsafat sejarah berkaitan dengan perjalanan karya sastranya. Secara biografis, Eka Kurniawan, penulis muda yang baru berumur 24 tahun (lahir 1975) ini, memaparkan bahwa masuknya realisme sosialis ke Indonesia berkait erat dengan keberadaan Lekra dan PKI. Sekitar tahun 1950-an, beberapa seniman kiri menemui Nyoto (tokoh senior PKI) untuk menyatakan peranan seni dalam perjuangan kelas. Nyoto menganjurkan pemaduan antara tradisi-tradisi bessar dari realisme kritis dengan romantisme. Realisme akan menggelar realitas alam dan masyarakat, dan romantisme akan menunukkan bahwa ada perubahan-perubahan yang terjadi secara revolusioner (h.21). Di Indonesia, realisme sosialis dikembangkan oleh Lekra atas dasar keberpihakan kepada rakyat daripada atas logika marxisme. Kedekatan realisme sosialis dengan marxisme terletak pada semangat, kesamaan perjuangan, dan pilihan hidup. Tidak terbukti bahwa hubungan keduanya merupakan hubungan organisatoris meskipun banyak anggota Lekra juga anggota PKI (h.20).

Dalam tradisi seni, kapan realisme sosialis muncul? Tidak pasti. Menurut Pram, muncul sekitar tahun tahun 1905. Maxim Gorki, sastrawan Rusia, sering dianggap sebagai "bapak pendiri realisme sosialis" yang ditandai oleh novel-novelnya: My Childhood, My Appreticheship, dan My Universities. Novel-novel ini bersandar kuat pada realitas yang semi-otobiografi, pemaknaan realitas sebagai proses dialektika, dan tujuan kepada proses kebenaran. Jadi, realitas bukan tujuan.

Istilah realisme sosialis sendiri baru muncul 30 tahun kemudian melalui pernyataan Andrei Zdanov di hadapan Kongres I Sastrawan Sovyet di Moskow tahun 1934 (.10-11). Maxim Gorki inilah yang menjadi inspirator karya-karya Pram, selain Zode Zielen, John Steinbeck, dan William Sorayan (h.17). Pram sendiri mengaku tidak pernah membaca atau mempelajari karya-karya Marx, namun filsafat marxis - secara garis besar - dapat dikatakan sebagai dasar-dasar material metode realisme sosialis sehingga menjadi sebuah aliran seni marxis. Walaupun Karl Marx pernah giat menulis puisi, tidak ada karya-karya Marx dan Engels yang menyinggung soal estetika kesenian.

Akhirnya, dalam buku ini penulisnya mencoba menguraikan bagaimana Pram mencoba membagi periodisasi sastra Indonesia sehingga menjadi 9 tahap. Tahap-tahap itu ialah, tahap sastra asimilatif (sastra berbahasa Melayu-kerja), sastra gatra (sastra sosialistik, dan mulai muncul pers berbahasa Melayu), sastra formalis (Balai Pustaka), sastra nasionalis dalam periode sastra formalis (berciri nasionalis-individual), sastra Pujangga Baru (periode maraknya bahasa Melayu-sekolah, dan lalu menjadi cikal-bakal bahasa Indonesia), sastra periode jarak dan kapas (periode pendudukan Jepang), sastra borjuis patriotik (masa revolusi kemerdekaan RI), sastra borjuis dekaden (periode yang ditandai oleh Konferensi Meja Bundar), dan sastra realisme sosialis (masa pergerakan Lekra).

Terlepas dari setuju atau tidak, pastinya bahwa Pram adalah juga anak sejarah sastra Indonesia. Meminjam Maxim Gorki, maka kesadaran atas sejarahnya itulah yang membuat Pram selalu ingin berubah.



Category : Review Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis | Posted By : (e-k) | Comments [0] | Trackbacks [0]


04 Sep 1999 05:10:24 am
Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis



  • Aksara Indonesia, 1999
  • Penerbit Jendela, 2002
  • Gramedia Pustaka Utama, 2006



Ditulis dengan rapi dan terang, telaah Eka Kurniawan menampilkan lintasan sejarah ide “realisme sosialis” dalam polemik yang berlangsung di Uni Soviet di tahun 1920-an sampai dengan tahun 1930-an, menjelang dan sesudah ia dirumuskan. Disinggung pula bagaimana “realisme sosialis” diterima di RRC di bawah Mao Zhe-dong. Terlebih lagi, dalam buku ini kita akan mendapatkan pandangan teoritikus Marxis terkenal, Grigory Lukacs dan salah satu pendiri Partai Komunis yang cemerlang, Leon Trotsky, yang bertentangan dengan “realisme sosialis” yang diresmikan Stalin – satu hal yang tak disebut, apalagi diperbincangkan, Pramoedya. Dalam arti ini, buku Eka Kurniawan bisa jadi pelengkap risalah yang disusun Pramoedya, yang hampir sepenuhnya mengikuti garis rumusan Zhdanov, pejabat tinggi Partai, besan, dan juru sensor Stalin.
(Goenawan Mohamad)


"Realisme sosialis itu sendiri bukan hanya penamaan satu metode di bidang sastra, tapi lebih tepat dikatakan satu hubungan filsafat, metode penggarapan dengan apresiasi estetiknya sendiri. Penamaan satu politik estetik di bidang sastra yang sekaligus juga mencakup kesadaran adanya front, adanya perjuangan, adanya kawan-kawan sebarisan dan lawan-lawan di seberang garis, adanya militansi, adanya orang-orang yang mencoba menghindari diri dari front ini untuk memenangkan ketakacuhan."
(Pramoedya Ananta Toer)


"Apa harus membaca karya-karya sastra untuk membahas realisme sosialis, kan cukup baca Eka Kurniawan (skripsi tentang realisme sosialis-Red)?"
(dari Kompas, Minggu 27 Juli 2003, Dari Musik Terbang Banjari sampai Realisme Sosialis dengan Becak Wisata Solo)



Category : Book | Posted By : (e-k) | Comments [0] | Trackbacks [0]


12 Aug 1999 10:36:03 am
About Eka Kurniawan



[English] Eka Kurniawan was born in Tasikmalaya, Indonesia, 1975. He studied philosophy at Gadjah Mada University, Yogyakarta. He works as journalist, writer and designer. He writes novels, short stories, movie scripts and graphic novel, as well as essay. His works including Cantik itu Luka (Beauty the Scar, 2002), Lelaki Harimau (Tigerman, 2004), Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya (Laughable Sadness and Other Stories, 2005), and Cinta tak ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya (Love ain't Mortal and Other Stories, 2005). Now he is working on his graphic novel debut.

[Dutch] Eka Kurniawan werd geboren in Tasikmalaya, Indonesie, in 1975. Hij studeerde filosofie aan de Gadjah Mada Universiteit in Jogyakarta. Hij is werkzaam als journalist, grafisch ontwerper en maakt stripboeken. Hij schreef Cantik itu Luka (Deze schoonheid is verwond, 2002), Lelaki Harimau (Mannetjestijger, 2004), Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya (Droevig gelach en andere verhalen, 2005) and Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya (2005). Momenteel werkt hij aan zijn eerste beeldroman, in samenwerking met twee andere ontwerpers.




Category : About | Posted By : (e-k) | Comments [0] | Trackbacks [0]


11 Aug 1999 10:24:21 am
Tentang Eka Kurniawan


BIOGRAFI
Eka Kurniawan lahir 1975. Menghabiskan masa kecil bersama keempat kakek-neneknya di sebuah desa di Tasikmalaya sebelum tinggal bersama orang tuanya di kota pantai Pangandaran. Bersama keluarganya, ia pernah juga tinggal di tepian perkebunan karet tak jauh dari kota Cilacap. Ketiga tempat masa kecilnya, merupakan latar belakang yang banyak dipergunakan sebagai setting untuk karya-karyanya, seperti Cantik itu Luka atau Lelaki Harimau. Tahun 1993 ia tinggal di Yogyakarta untuk mengikuti studi di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada yang diselesaikannya tahun 1999. Ia juga pernah mengenyam pendidikan grafis di Visi Art & Graphic Design School Yogyakarta tahun 1995. Selain menulis, ia juga jurnalis dan desainer grafis. Kini ia tinggal di Jakarta bersama istrinya, novelis Ratih Kumala (menikah tahun 2006).

BIBLIOGRAFI
What's a Sunday?, 1998, sebuah karya komik berkolaborasi dengan Agung Arif Budiman dan Andy Seno Aji. Pada tahun 1998, mereka bertiga mendirikan kelompok komik KOMIKAZE, di antaranya membuat selebaran dalam bentuk komik. Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (1999), awalnya merupakan skripsi dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, kemudian diterbitkan oleh Yayasan Aksara Indonesia, diterbitkan kembali oleh Jendela (2002) dan Gramedia Pustaka Utama (2006). Corat-coret di Toilet (2000), sebuah kumpulan cerpen yang diterbitkan oleh Yayasan Aksara Indonesia. Buku ini beberapa tahun kemudian diterbitkan dalam Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya. Cantik itu Luka (2002), sebuah novel yang pada awalnya berjudul O Anjing. Setelah beberapa kali ditolak oleh penerbit, akhirnya ia memperoleh beasiswa penulisan novel dari Akademi Kebudayaan Yogyakarta, yang bersama Penerbit Jendela akhirnya menerbitkan novel tersebut. Novel ini dicetak kembali oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2004. Tahun 2003, masuk sepuluh besar Khatulistiwa Literary Award, saat ini sedang diusahakan penerjemahan ke dalam bahasa Belanda dan Inggris. Lelaki Harimau (2004), sebuah novel, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, masuk sepuluh besar Khatulistiwa Literary Award. Ia kembali memperoleh nominasi sepuluh besar Khatulistiwa Literary Award untuk buku Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-cerita Lainnya (2005), yang terbit bersama dengan buku Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya (2005). Ia juga mengadaptasi sebuah film ke dalam bentuk novel pendek berjudul Gerbang 13 (2005). Novel ketiganya, kemungkinan besar terbit di awal tahun 2007. Kini ia tengah mempersiapkan debut novel grafisnya.

TERJEMAHAN
Cantik itu Luka, diterjemahkan oleh Ribeka Ohta ke dalam bahasa Jepang, Bi Wa Kizu, diterbitkan oleh Shinpusha, akhir 2006; diterjemahkan oleh Mikael Johani ke dalam bahasa Inggris; dan sedang diusahakan penerbitanya dalam bahasa Belanda. Selain itu, beberapa cerita pendeknya juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Swedia: Cinta Tak Ada Mati (oleh Stefan Danarek) dan bahasa Inggris: Kutukan Dapur (Margaret-Glade Agusta), Pengakoean Seorang Pemadat Indies (Astrid Reza), dan Lesung Pipit (Lie Hua).

Selain itu, Eka Kurniawan juga telah menerjemahkan beberapa karya penulis asing ke dalam bahasa Indonesia: Pemogokan (Maxim Gorky), Metamorfosa (Franz Kafka), Cannery Row (John Steinbeck), dan Cinta dan Demit-demit Lainnya (Gabriel Garcia Marquez).

PARTISIPASI

  • Winternachten - International Literature Festival The Hague (Den Haag, Belanda, 2006)
  • Ubud Writers & Readers Festival (Ubud, Bali, 2005)
  • Biennal Sastra International (Komunitas Utan Kayu, Bandung, 2005)

Sphere: Related Content