Arca Durga Mahisashuramardini dalam ruang utara candi Siwa Prambanan yang dipercaya sebagai perwujudan Putri Loro Jonggrang.

ACI = Art & Culture Indonesia. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita lawan.

di
10.7.09
0
komentar
Link ke posting ini
Label: durga
Pasar Seni Lukis Indonesia 2008, yang diselenggarakan di halaman Balai Pemuda Surabaya dari tanggal 2 s/d 12 Mei 2008 lalu, setidaknya telah berlangsung dengan sukses. Baik yang menyangkut pelaksanaan, kesan para peserta yang berasal dari berbagai kota, pemberitaaan berbagai media massa, respon masyarakat pecinta seni lukis, serta transaksi yang terjadi selama berlangsungnya pasar seni lukis. Dalam 11 hari pelaksanaan, telah terjual 196 buah lukisan berbagai ukuran ditambah 102 sket, menjadikan Pasar Seni Lukis 2008 merupakan even seni lukis terbesar yang pernah ada di Surabaya.
Melihat respon positif dari berbagai pihak itu, maka kami Sanggar Merah Putih sebagai penyelenggara telah sepakat untuk menjadikan kegiatan tersebut sebagai even regular tiap tahun, dengan melakukan beberapa pembenahan, penyempurnaan dan pengembangan. Diharapkan nantinya even ini bukan hanya berskala nasional, tetapi juga berskala internasional, setidaknya untuk kedepan.
Dengan belajar dari pelaksanaan yang lalu itu, kini kami telah mempersiapkan diri untuk menyelenggarakan Pasar Seni Lukis Indonesia 2009. Untuk itulah melalui proporsal/ pemberitahuan ini kami mengajak Anda untuk bersama-sama menggairahkan dan mendorong perkembangan seni lukis di Indonesia, sekaligus juga mengundang Anda untuk berpartisipasi sebagai peserta.
Waktu pelaksanaan:
Tanggal 1 Mei s/d 11 Mei 2009.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian acara HUT ke 716 Kota Surabaya yang jatuh pada tanggal 31 Mei 2009.
Tempat Pelaksanaan:
Gedung utama dan halaman Balai Pemuda Surabaya,
Jl. Gubernur Suryo No. 15 Surabaya, Jawa Timur.
Persyaratan peserta:
-Karya yang disertakan hanya berupa seni lukis.
-Mengirimkan data peserta perorangan/kelompok, diserati foto.
-Mentaati tata tertib penyelenggara.
-Membayar sewa stand.
Stand:
- Ukuran stand: 3 x 2,5 Meter, partisi/panel dengan rangka aluminium.
- Harga/sewa Rp. 1.000.000,-/stand untuk selama berlangsungnya kegiatan.
- Untuk booking stand diwajibkan membayar sebesar 50%, dan sisanya dilunasi selambatnya tanggal 30 April 2009 malam. Peserta tidak dapat mengambil kembali uang muka yang telah dibayar jika mengundurkan diri atau batal.
Fasilitas stand:
- Lampu TL 40 watt, 1 MCB untuk setiap stand, karpet, dan papan nama stand.
- Setiap stand bagi peserta individual/kelompok akan menerima 1 (satu) T-shirt,
1 (satu) ID Peserta, serta satu lembar piagam.
- Peserta dapat menyewa lebih dari 1 (satu) stand.
- Free WiFi di lokasi pasar seni. Denah stand terlampir.
Informasi/Booking stand:
1. Teddy Sulangi ; HP no: 085732327544 atau 03177366017
2. Soedarsono; HP no: 081553151810
3. Suyitno; HP no: 08123093765
Pembayaran:
1- Bank Jatim, Rek. No: 0017661647 a/n Sanggar Merah Putih
2- BCA KCP. Prapen, Rek. No: 5120254806 a/n M.. Abdoellah
3- BNI KC. Surabaya, Rek. No: 0161432776 a/n M. Abdoellah
Keamanan dan Ketertiban:
Jam buka pasar seni pukul 10.00 WIB s/d pukul 22.00 WIB.
Panitia pelaksana bertanggung jawab atas keamanan di dalam arena pasar seni. Keamanan di dalam stand menjadi tanggung jawab masing-masing peserta, termasuk keamanan lukisan yang dipajang. Untuk barang-barang di dalam stand yang berharga atau berbahaya menjadi tanggungjawab masing-masing peserta.
Promosi:
Penyelenggara akan melakukan promosi melalui: Media cetak dan elektronika, website, poster, brosur, spanduk, baliho dan bentuk promosi lain.
Penyelenggara:
Sanggar Merah Putih, sebuah lembaga yang bergerak untuk pengembangan seni di Indonesia, berdomisili di Surabaya.
Alamat Sekretariat: Jl. Kendangsari blok F.41.D Surabaya.
email: pasarsenilukis@yahoo.com, dan pasarsenisurabaya@yahoo.com
Website: www.pasarsenilukis.com
Tim kerja:
M. Anis, Soedarsono, M. Abdoellah, Teddy Sulangi, Hendri Titis Sanjaya, Budi Haryoso, Suyitno dan Gentong...
di
27.1.09
0
komentar
Link ke posting ini
Label: seni lukis
Song of Body adalah ekspresi dan eksplorasi pemahaman tentang esensi gerak tubuh di mana pusat energi tubuh manusia mengawali gerak, yang mengalir bagai air dan menyatu seiring sirkulasi nafas dan energi dari dalam bumi. Sebagai komposisi, tarian ini juga berusaha merekam suasana kejiwaan ketika berada di jantung alam yang hidup bebas sekaligus mengandung paradoks. Suasana indah yang sekaligus mencekam dan sedikit menakutkan.
Danang Pamungkas adalah penari dan koreografer asal Surakarta. Belajar tari secara formal di Institut Seni Indonesia, Surakarta, selain di keraton Mangkunegaran. Ia pernah terlibat dalam pementasan beberapa karya Sardono W. Kusumo, Ki Slamet Gundono, dan Sen Hea Ha. Karya kolaborasi yang pernah dibuatnya adalah Spring in Solo dengan Pappa Tarahumara Dance Theater asal Jepang, Monteverdi's Orfeo dengan English National Opera, London, serta The Coronation of Poppea dengan Shubert Theater, Boston dan English National Opera, London. Danang adalah seorang koreografer kontemporer yang tergolong produktif; saat ini ia masih tergabung dalam Cloud Gate Dance Theater of Taiwan.
Dalam pementasan Song of Body, Danang Pamungkas akan tampil bersama penari Rianto, dan didukung oleh penata cahaya Sugeng Yeah serta musik Philip Glass Song and Poems for Solo Cello.
Pementasan ini akan diadakan di Teater Salihara pada hari Senin-Selasa, 2-3 Februari 2009, 20:00 WIB. Tiket seharga Rp 30.000,- (dan Rp 15.000,- khusus untuk Pelajar/Mahasiswa) dapat diperoleh langsung di Komunitas Salihara, atau reservasi melalui Asty 0817-999-5057, Laly 0812-8008-9008, Nike 0818-0730-4036, atau secara online melalui www.salihara.org.
Sampai bertemu di Komunitas Salihara!
Komunitas Salihara; Jl. Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520.
(Tempat parkir terbatas.)
di
27.1.09
0
komentar
Link ke posting ini
Label: salihara
papan Catur Nirwan dewanto
langkah Ulung Seorang Penyair
tipografi adalah kode bagi sebuah puisi. Seorang penyair meletakkan larik-larik puisinya dengan cara tertentu, membentuk bait-bait puisi. Bait-bait yang menjadi unit-unit pemaknaan bagi pembaca. Tapi pembaca bisa memainkan kode yang disusun penyair. Dalam semangat kebebasan yang memberontak dari setiap konvensi dari dunia puisi – konvensi tipografi.
Kebebasan pembaca nyaris tanpa batas itu, bisa menyerat puisi ke arah pemaknaan lain dari makna awal yang hendak didedah oleh sebuah puisi. dengan memainkan tipografinya.
Dari pembacaan ulang buku puisi nirwan dewanto, jantung lebah ratu, saya menemukan apa yang saya maksudkan, dari puisi pertamanya bernama "Perenang Buta". Betapa permainan tipologi, atau pemakaiannya ke dalam tubuh puisi, dapat menggeser arti dan makna puisi.
Puisi perenang buta bisa kita letakkan sebagai palang dari maksud sang penyair: sang penyair meletakkannya sebagai puisi pertama, sebagai undangan bagi pembaca karena sang penyair hendak menangani dunia benda secara lain. Yakni unik yang aneh. Dan memang yang segera terasa membaca tiap puisi dari kumpulan puisi ini, adalah sebuah keunikan dan keanehan, betapa benda-benda kecil dilihat oleh sang penyair, secara tidak biasa. Ada sudut pandang baru di sana.
Seolah sang penyair yang dalam sekian puluh tahun di ranah sastra dan budaya negeri ini, menyuarakan sebuah suara seni yang berinti: perlakukanlah sebuah bahasa dengan kaidahnya, tapi perlakukan pula nalar dalam menangani bahasa. Atau dalam kata-kata yang diringkas: dunia puisi menuntut kecerdasan sang penyair, untuk membuatnya sebagai sebuah bidang di mana ia, dunia puisi itu, bisa menjadi sebidang papan catur dengan pemain catur melangkah dengan langkah-langkah yang ulung.
Langkah-langkah yang ulung itu, dalam dunia puisinya, adalah saat bagi sang penyair memainkan larik dan baitnya, atau bidaknya, ke dalam simbiose bentuk dan isi yang melekat seolah roh dan badannya. Sehingga dunia puisi menjadi sebuah totalitas bentuk dan makna yang dikandungnya. Bentuk yang mengatasi bentuk – tipografi yang mungkin memberi arah makna lain - makna yang mengatasi makna – makna lain dari dunia benda, yang disembunyikan ke dalam suatu permainan dengan pembaca.
Bentuk dan makna yang mengandung langkah-langkah perenang buta, ke dalam dunia pemaknaan yang disusun penyair sebagai dunia yang membatalkan, dunia yang mengaburkan, dunia yang mendalamkan dirinya ke dalam permainan benda-benda kecil yang menghidupkan identitas sang perenang buta. Sehingga pembaca disodori sebuah kompleksitas makna dalam rentetan pertanyaan pada puisi: apa dan mengapa perenang buta itu di sini.
puisi sampai kepada pembaca sebagai gaung bunyi. Tapi gaung ide juga. Ide dan bunyi yang dibawa oleh imaji puisi. Imaji yang menaut dalam relasi konteks latar tempat (laut), dan mahluk-mahluk laut yang menjadi latar di mana puisi bermain. Dan perenang buta adalah sebuah puisi yang bermain di dalam latar jarak, yang penyebutannya sendiri pembaca sudah disuguhi oleh sang penyair dengan sebuah ragu, dalam arah yang menunjuk ke banyak arah, dengan menyimpul kepada nomina jarak yang relatif.
Dengan memakaikan kata "atau" dalam larik pertama, maka terbacalah dunia relatif itu: sepuluh atau seribu depa. Relatifitas dari jarak yang mungkin hendak ditempuh oleh sang perenang buta. Tapi rentang jarak itu, yang dalam sebuah konteks tempat bisa kita sambung imaji sang penyair, ke dalam imaji pembaca yang memaknai jarak sebagai jarak ke muka atau ke belakang, ke bawah atau ke atas, sehingga jarak itu sendiri, adalah sebuah ruang yang bisa kita tangani dengan wacana geometri euclides, bentuk dan tiap sudut maknanya. Yakni ada titik berangkat sang perenang buta. Titik yang dimulai dari judul puisi itu sendiri: perenang buta. Di mana sebuah tarikan titik (.) pembentuk huruf p di awal, adalah awal sebuah garis yang bisa kita tarik, kita hubungkan dengan sebuah titik lain yang dikandung oleh titik a dalam akhiran kata buta. Sehingga diri sang perenang buta itu sendiri, adalah implikasi dari sebuah titik yang dihubungkan oleh sebuah garis ke titik
lain – tidakkah panjang tubuh kita seolah garis yang dimulai dari kedua titik itu? – garis lurus yang bermakna diri sang perenang buta yang membentuk biometri tubuh dengan, atau biometri melalui, arti yang bisa kita rujukkan semantik maknanya ke dalam konteks latar, di mana sang puitor di sana meletakkan perenang buta dalam relasi dengan gejala benda di seputarnya.
tapi bersama dengan biometri tubuh – perenang yang secara fisik adalah lelaki (?) buta, sang penyair mulai memainkan persepsi pembaca dengan kata-kata informatif "terang" yang diimbuhinya dengan "semata": terang semata. Maka kita segera dihadapkan kepada sebuah kontras pemaknaan: terang semata itu bagi sang perenang buta atau bagi pembaca puisi – penerang yang berfungsi sebagai latar dalam puisi. Tapi tampaknya, terang semata itu adalah dunia sebagaimana sang perenang buta adalah representasi dari manusia yang hendak mencari dalam dunia.
Maka di sini, dari larik pertama, betapa puisi telah menyembunyikan apa yang hendak ia sampaikan: bahwa jarak itu penuh dengan resiko (relatif sepuluh atau seribu). Tapi resiko bukanlah sebuah ketidakmungkinan (terang semata sebagai latar ratio manusia untuk memahami), tapi relatifitas dan rasio itu kemudian dibawa, atau diputar, oleh sang penyair ke dalam diri "ia" yang buta.
Segera terasa kehendak nirwan untuk menempatkan manusia, walau buta atau awal mulanya tak mengerti akan tiap sesuatu, setidaknya ada seberkas sinar terang untuk sebuah upaya pencarian – puisi menyebut, atau menghidup, kan upaya ini dengan metanomik, dalam tautan individu yang mengalami jarak dalam sebuah latar laut dengan mahluk-mahluk serupa ganggang, ubur-ubur, simbolik dari pengembaraan seorang penyair, di mana arus dan arah gelombang, adalah arus dan arah gelombang hidup itu sendiri. Manusia buta di tengah gejala penampakan dunia. Tapi ada aritmatika dan serat optik makna yang bisa membimbingnya.
Maka terbaca:
Perenang Buta
Sepuluh atau seribu depa
ke depan sana, terang semata.
Tipografi puisi, yang kalau kita mainkan tipografinya ke dalam tipografi prosa menjadi kalimat sebagai:
Sepuluh atau seribu depa ke depan sana, terang semata.
Sebuah kalimat yang tak bergoyang maknanya walau ia disusun secara tipografi kalimat, bukan larik yang membentuk bait dalam puisi. Maka bisa pula dari permainan kesamaan makna yang diproduksi larik dan bait dalam puisi ini, ke dalam kalimat dalam dunia prosa, kita merujukkan bahwa hidup ini bisa didekati secara puisi bisa pula secara prosa. Sebuah rujukan persamaan yang menyembul keluar dari dunia puisi "Perenang Buta" (bersambung)
Hudan Hidayat
Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/
------------------------------------
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com
-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Kemarin istriku yang baru pulang dari pertemuan di sekolah anakku
menelponku untuk menceritakan hasil pertemuan tentang kemajuan yang
dicapai oleh anak kami selama sekolah dan juga kendala-kendala yang
dia hadapi. Pertemuan yang diikuti istriku ini adalah semacam acara
pembagian rapor di sekolah-sekolah tradisional.
Di TK Montessori tempat anakku sekolah, mereka tidak mengenal yang
namanya penilaian dan laporan tertulis apalagi pemberian rangking. TK
dan SD Montessori tidak pernah mengklasifikasikan murid-muridnya ke
dalam klasifikasi bodoh dan pintar. Di sekolah ini setiap anak
diperlakukan sebagai pribadi yang unik yang masing-masing memiliki
kelebihan dan kekurangan. Karena itulah Montessori menganggap adalah
tidak mungkin menilai kemampuan seorang anak dengan ukuran angka. Cara
Montessori melaporkan perkembangan anak adalah dengan mengundang orang
tua untuk menyaksikan aktivitas anak mereka di kelas selama setengah
jam. Lalu kemudian apa yang disaksikan selama setengah jam itu
didiskusikan dengan guru yang di Montessori disebut 'Direktris'.
Yang menjadi direktris di kelas rose, kelas anakku adalah Valda, gadis
Amerika berumur 26 tahun. Di samping aku dan istriku, Valda yang
cantik dan sangat ramah ini termasuk salah satu orang yang paling
diidolakan oleh anakku. Kepada istriku Valda menceritakan kalau anakku
memiliki kemampuan yang sangat baik dalam hal berkonsentrasi. Menurut
Valda anakku mampu mengerjakan aktivitas yang dia suka sampai selesai
tanpa terganggu oleh suara gaduh teman-temannya. Daya serap terhadap
informasi baru juga sangat baik. Ada beberapa hal positif lain yang
disebutkan Valda tentang anakku.
Anakku yang tanggal 7 Desember nanti akan tepat berumur 4 tahun
sekarang sudah bisa menyiapkan semua kebutuhannya sendiri tanpa perlu
dibantu oleh orang dewasa. Itu bisa terjadi karena di sekolah
Montessori ini anak-anak diajarkan untuk mandiri. Di sini anak-anak
dibiasakan memakai sepatu sendiri, selesai makan mencuci piring
sendiri, bahkan beberapa anak yang mengompol di kelaspun diajarkan
untuk mengepel lantai dan mencuci celana bekas ompolannya sendiri.
Di samping mengajarkan kemandirian, aktivitas seperti itu juga melatih
keterampilan motorik anak. Karena memang anak-anak yang masih berumur
tiga tahun ini dalam tahapan psikologi perkembangan dikatakan masih
berada dalam masa peralihan dari tahap perkembangan 'sensori motorik'
ke masa 'pra operasional'.
Berdasarkan hasil dari banyak riset, para ahli menyimpulkan bahwa
mengarahkan anak-anak sangatlah mudah. Melatih anak-anak untuk bisa
mandiri seperti yang dilakukan di sekolah Montessori juga sangat
mudah, karena anak-anak pada umur-umur TK seperti anakku ini
perilakunya masih sangat mudah dibentuk. Yang menjadi masalah
terbesar dalam membentuk kemandirian anak selalu datang dari orang tua
dan orang dewasa lain yang berada di sekitar si anak. Berdasarkan
pengalaman Montessori yang sudah nyaris seabad eksistensinya mereka
juga menemukan bahwa semua kegagalan yang dialami oleh anak dalam
mengikuti metode Montessori selalu berasal dari orang tua.
Karena itulah sebelum menerima seorang murid di sekolah ini, fihak
Montessori terlebih dahulu melakukan seleksi ketat. Yang mereka test
dalam proses seleksi tersebut bukan si anak yang menjadi calon murid
melainkan orang tuanya. Hanya anak dari orang tua yang memiliki
kesepahaman dengan Montessori yang bisa diterima di sekolah ini.
Seleksi semacam itu mereka lakukan supaya program yang mereka buat
dapat berjalan optimal. Sebab kalau orang tua tidak memiliki cara
pandang yang sama dengan Montessori dalam mendidik anak. Apa yang
didapatkan anak di Montessori akan sia-sia karena di rumah anak-anak
yang sudah diajari mandiri ini kembali dilayani, biasanya oleh
pembantu. Lalu jika anak seperti ini ada di Montessori, kebiasaan
dilayani yang dia dapatkan di rumah akan dia bawa ke sekolah dan anak
inipun akan menularkan mentalitas feodalnya itu kepada anak-anak yang
lain. Dan hancurlah semua program yang dibuat Montessori.
Masalahnya biaya pendidikan di Montessori yang terbilang cukup mahal
membuat anak-anak yang mendaftar ke sana selalu berasal dari kalangan
mampu. Yang menjadi masalah dengan orang-orang yang berasal dari
kalangan ini, biasanya mereka selalu memiliki pembantu di rumah. Para
pembantu itu bertugas mengurusi semua keperluan anggota keluarga
tersebut, termasuk anak-anak Balita yang sedang berada dalam tahapan
psikologis sensori motorik dan pra operasional. Padahal anak-anak
seumuran itu seharusnya dibiarkan melakukan berbagai aktivitas motorik
untuk melatih keterampilan geraknya. Tapi karena diumur-umur seperti
itu anak-anak ini malah dilayani bagaikan raja dan ratu. Akibatnya
kemandirian dan kemapuan motorik anak-anak itu tidak berkembang dan
merekapun tumbuh menjadi anak manja.
Situasi yang dihadapi kaum kaya ini diperburuk oleh kenyataan bahwa
mereka tinggal di Negara yang bernama Indonesia. Di negara ini sulit
sekali mencari pembantu yang punya mental orang merdeka yang bisa
memandang majikan di tempatnya bekerja sebagai manusia yang setara.
Hal ini sangat sering dikeluhkan oleh para orang tua murid di
Montessori yang saya kenal ketika kami mengobrol di setiap acara
pertemuan orang tua.
Di Indonesia ini para pembantu, baik yang berseragam maupun tidak.
Hampir bisa dikatakan seluruhnya bermental Abdi Dalem yang dalam
hubungan profesionalnya ketika bekerja selalu menempatkan diri sebagai
alas kaki tuannya. Padahal para orang tua anak-anak Montessori yang
saya kenal rata-rata adalah para ekspat berjiwa humanis yang tidak
pernah menganggap pembantu di rumah mereka sebagai orang yang
derajatnya lebih rendah. Tapi masalahnya mentalitas menghamba di
kalangan kaum pembantu di Indonesia ini memang sudah berurat dan
berakar karena tradisi. Inilah yang dikeluhkan para orang tua
teman-teman anakku. Mereka mengeluh karena mereka sangat menyadari
kalau keberadaan pembantu model begini di sekitar anak-anak mereka
yang sedang mencari bentuk jati diri, betul-betul merusak.
Wassalam
Win Wan Nur
www.winwannur.blogspot.com
------------------------------------
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com
-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
Pameran arsip
Sanggar Bumi Tarung [SBT]
Di IVAA Hobby Studio
Jalan Patehan Tengah 37 Yogyakarta
9 - 31 Desember 2008
Buka pameran 09.00-17.00 WIB (hari Sabtu & Minggu libur)
Sanggar Bumi Tarung [SBT], didirikan oleh beberapa perupa muda di Yogyakarta pada tahun 1961 di tengah situasi sosial politik Indonesia yang tengah bergelora. Mereka itu adalah Amrus Natalsya, Misbach Tamrin, Ng Sembiring, Isa Hasanda, Kuslan Budiman, Djoko Pekik, Sutopo, Adrianus Gumelar, Sabri Djamal, Suharjiyo Pujanadi, Harmani, Haryatno dll.
Pameran arsip Sanggar Bumi Tarung ini merupakan rangkaian peluncuran buku dan pameran arsip Sanggar Bumi Tarung yang telah dilaksanakan di Bentara Budaya Yogyakarta. IVAA sebagai lembaga yang bergerak di bidang arsip mengumpulkan arsip-arsip mengenai Sanggar Bumi Tarung yang kemudian di elaborasi dengan data-data mengenai kelompok-kelompok lain yang dekat dengan situasi sosial politik di Indonesia.
Selain data cetak, IVAA juga mempunyai koleksi video wawancara dengan Amrus Natalsya dan Misbach Tamrin mengenai keberadaan Sanggar Bumi Tarung dan juga rekaman audio diskusi yang pada saat launching buku Sanggar Bumi Tarung. Kedua arsip IVAA ini bisa diakses di perpustakaan IVAA.
JURNAL TODDOPULI: SASTRA PERIFERIK DAN ATAU SASTRA KEPULAUAN? Istilah priferik atau pinggiran adalah kosakata yang dihadapkan dengan sentral. Istilah yang umum digunakan dalam teori-teori ilmu ekonomi pembangunan dengan tokoh-tokoh seperti Andre Gunder Frank, Cardoso, Samir Amin, Ignacy Sachs, dan lain-lain.... dan kemudian banyak yang berhimpun di sekitar Universitas Leuven, Belgia. Adanya istilah sastra periferik ini baru saya dengar dari Luna Vidya, yang hari ini, 04 Desember 2008 petang , telah tiba dengan selamat di Paris setelah berhenti sebentar di Dubai, dengan membawa dua koper buku karya-karya penulis Makassar dan Aceh. Ketika mendengar istilah sastra periferik ini, saya tidak langsung mereaksi Luna Vidya tapi merenungi istilah tersebut. Istilah? Mengapa ia harus dipermasalahkan? Jawabannya, sederhana karena istilah pada galibnya, seperti halnya setiap kosa-kata tidak lain dari lumbung bagi suatu konsep dalam bentuk bahasa. Jika benar demikian, maka agaknya kepada semua pemakai bahasa diharapkan adanya kesadaran berbahasan, termasuk kesadaran menggunakan kosakata atau istilah. Makna istilah dan pemilihan kosakata dan atau istilah ini akan makin terasa ketika kita menulis karya-karya ilmiah, skripsi dan apalagi saat menulis tesis. Melihat buku-buku karya-karya para penulis Makassar dan Aceh yang akan dipamerkan dalam acara Lembaga Persahatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam" di Paris pada 07 Desember 2008, "Sepuluh h Jam Untuk Sastra Indonesia", yang mengisi koper-koper Luna Vidya sehinggga membuatnya harus membayar ongkos timbangan lebih penerbangan [over weight], saya bertanya-tanya: "Karya-karya inikah yang disebut karya-karya sastra periferik"? Sementara saya masih mempertanyakan apakah karya-karya yang disebut "periferik" ini mutunya jauh lebih rendah dari karya-karya yang terbit dan ditulis oleh para penulis Jakarta atau Jawa yang mungkin dipandang sebagai sentral? Periferik dalam ilmu ekonomi pembangunan memang bermaksud menekankan keniscayaan negeri-negeri Selatan untuk memperjuangkan keadilan secara ekonomi, melawan dominasi negeri-negeri Utara dan untuk menjadi tuan atas negeri sendiri serta setara dengan bangsa-bangsa lalin di dunia , termasuk negeri-negeri Utara. Konsep periferik juga bisa dipandang sebagai dasar teori front persatuan negeri-negeri Selatan guna menegakkan keadilan manusiawi dalam tingkat global. Konsep menentang dominasi negara-negara Utara yang umumnya kapitalistik. Lalu apa yang disebut sastra kepulauan? Dalam pengertian saya, sastra kepulauan tidak lain dari pada niat dan usaha mengembang-tumbuhhkantanpa kompleks potensi-potensi sastra di berbagai daerah dan pulau tanahair yang tentu saja berbeda dengan konsep "Black is beautiful" dari Leopold Senghor , Aimé Césaire dan kawan-kawan karena latar sejarahn dan politiknya memang berbeda.. Dasar teori konsep sastra-seni kepulauan, saya kira terdapat pada kosakata republik dan Indonesia yang secara ringkas dirumuskan dalam motto filosofis "bhinneka tunggal ika". Hal yang tidak terdapat pada konsep saastra periferik. Konsep sastra periferik terasa padaku masih berpegang pada pandangan UUD '45 yang mengatakan bahwa kebudayaan Indonesia itu adalah puncak-puncak kebudayaan daerah, mengakui adanya sentra-sentra budaya, sastra-seni, penuh kompleks rendah diri pada yang disebut sentral, tidak menyadari arti kesetaraan dalam nilai republiken dan berkindonesiaan serta tidak mengkahayati makna kebhinnekaan. Hal yang berbeda dengan konsep sastra kepulauan. Satra periferik lebih menjurus ke konsep sastra proyek LSM. Tentu saja sastra proyek LSM tidak saya tentang, tapi yang saya inginkan adalah kejelasan konsep.Bahwa Republik dan Indonesia serta bhinneka tunggal ika adalah kosakata-kosakata yang melukiskan sebuah cita-cita untuk negeri dan bangsa. Adalah suatu program dan politik kebudayaan. Sastra-sastra kepulauan, sastra-seni yang ada di berbagai pulau dan daerah sudah ada jauh sebelum Republik Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Sentral dan periferik jika itu ada, dominasi dan hjegemoni hanyalah salah satu akibat dari pemahaman bahwa Republik dan Indonesia sinonim dari sentralisasi, jika dilihat dari segi politik. Sehingga daerah-darrah dan pulau tidak lain suatu daerah jajahan tipe baru dan sentral. Karena itu saya memandang bahwa konsep sasra kepumauan [dalam pengertian termasuk daerah-daerah] lebih rasuk [compatible] dibandingkan dengan kosakata periferik. Dalam konteks inilah maka saya memandang kehadiran Sitor Situmorang, Richard Oh, Laksmi Pamuntjak, Lily Yulianti, Maesa Ayu Djenar, Luna Vidya di acara "Sepuluh Jam Untuk Sastra Indonesia", merupakan ujud dari pengakuan Paris pada sastra kepualauan sebagai kenyataan Indonesia. Sementaran demikianlah pendapat saya yang selalu bermimpi agar konsep republik dan Indonesia yang sesungguhnya dan demikian itu bisa terujud. Jika Martin Luther King Jr mengatakan "I have a dream", maka demikianlah mimpi saya. This is my dream.**** Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008 ------------------------------------------------------ JJ. Kusni |
Pameran arsip
Sanggar Bumi Tarung [SBT]
Di IVAA Hobby Studio
Jalan Patehan Tengah 37 Yogyakarta
9 - 31 Desember 2008
Buka pameran 09.00-17.00 WIB (hari Sabtu & Minggu libur)
Sanggar Bumi Tarung [SBT], didirikan oleh beberapa perupa muda di Yogyakarta pada tahun 1961 di tengah situasi sosial politik Indonesia yang tengah bergelora. Mereka itu adalah Amrus Natalsya, Misbach Tamrin, Ng Sembiring, Isa Hasanda, Kuslan Budiman, Djoko Pekik, Sutopo, Adrianus Gumelar, Sabri Djamal, Suharjiyo Pujanadi, Harmani, Haryatno dll.
Pameran arsip Sanggar Bumi Tarung ini merupakan rangkaian peluncuran buku dan pameran arsip Sanggar Bumi Tarung yang telah dilaksanakan di Bentara Budaya Yogyakarta. IVAA sebagai lembaga yang bergerak di bidang arsip mengumpulkan arsip-arsip mengenai Sanggar Bumi Tarung yang kemudian di elaborasi dengan data-data mengenai kelompok-kelompok lain yang dekat dengan situasi sosial politik di Indonesia.
Selain data cetak, IVAA juga mempunyai koleksi video wawancara dengan Amrus Natalsya dan Misbach Tamrin mengenai keberadaan Sanggar Bumi Tarung dan juga rekaman audio diskusi yang pada saat launching buku Sanggar Bumi Tarung. Kedua arsip IVAA ini bisa diakses di perpustakaan IVAA.
Untuk warga Indonesia, begini ceritanya...
KLM Royal Dutch Flight (www.klm.com), international flight yang
berbasis di Netherland dan merupakan bagian dari Air French KLM,
sedang ngadain promo berjudul FILL A PLANE.
Ini terbuka untuk warga Indonesia.
Hadiahnya tentu yg tercantum di atas, yaitu:
FREE Trip to Amsterdam
iPod Nano
Philips Noise Cancelling Headphones
Limited Edition KLM Flight Bag
Cara ngedapetinnya mudah. Kita cuma perlu ikut dalam game 'mengisi
pesawat'
1 pesawat berkapasitas 100 penumpang. Nah, kitalah yang harus
mengisi kursi2nya (jadi kita penumpangnya). Caranya gimana? Dengan
saling meng-INVITE teman.
Pesawat yg tersedia bukan cuma satu, tapi banyakkkk... sehingga
pesawat2 tersebut bersaing meraih skor terbanyak.
Skor itu dihitung berdasarkan masing2 penumpang pesawat manakah yg
paling banyak meng-INVITE temannya. Jadi, walaupun pesawatnya dah
penuh, terus aja invite temen. Temen2 yg di-Invite saat pesawat kita
udah penuh, akan masuk ke pesawat lain. Tapi skornya tetep buat yg
invite donk... Temen2 ini juga harus berjuang lagi invite temen2
lainnya. Pesawat yg skor invite temennya paling banyak, jadi
pemenang.
Untuk mereka yg ter-INVITE ke pesawat yg udah penuh, tinggal cari
pesawat yg masih kosong, dan berjuang invite2 temen lagi ^^. Gitu
seterusnya.
Jadi, klo dalam 1 pesawat, para penumpangnya rajin ngajakin temen
buat join, maka skor pesawat tersebutlah yg paling tinggi. Nah,
kalau sudah gitu, maka hadiahnya jadi milik kita ^^
Keterangan lebih jelas akan tertulis saat join.
Untuk yang ingin kerja sama bareng-bareng ngerebutin hadiahnya,
email aku email kalian yah.
Karena invitation nya hanya bisa diberikan via email..
Nanti buka emailnya, and langsung klik JOIN my plane, maka akan
terbukalah website KLM fill a plane. Ikuti langkah2nya yg simple
untuk segera boarding ke pesawat!
Oya, ini ga pake acara bayar-bayaran lho ya... ^^ hati2 ketipu!
Oke deh, ditunggu yah ^^
PS: Klo dalam 24 jam invitationnya ga keterima di email (jgn lupa
cek folder SPAM juga), langsung kasih tau aku ya biar dikirimin
ulang :)
------------------------------------
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com
-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/artculture-indonesia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:artculture-indonesia-digest@yahoogroups.com
mailto:artculture-indonesia-fullfeatured@yahoogroups.com
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
artculture-indonesia-unsubscribe@yahoogroups.com
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
UNDANGAN
Farah Wardani, kurator. Untuk info lebih lanjut hubungi: ruangrupa : T / F : (021) 8304220 / E : info@ruangrupa.org Indra Ameng : 0818817548 / indraameng@yahoo.com Julia Sarisetiati : 081513808505 / julia_sarisetiati@yahoo.com |
|
|
Surabaya, 3/12 (ANTARA) - Kurator, Agus Kucing mengemukakan bahwa pewacanaan mengenai seni rupa di Surabaya dalam beberapa dekade sangat minim, padahal di kota ini banyak perupa yang terus menerus berkarya.
"Kondisi ini memang sangat memprihatinkan dalam kehidupan seni rupa di Surabaya. Padahal, kita tahu akhir-akhir ini banyak perupa di Surabaya menggelar pameran," katanya pada diskusi "Mazhab Seni Rupa Surabaya dalam Peta Seni Rupa Nasional" di Galeri Seni "House of Sampoerna" Surabaya, Rabu.
Ia mengemukakan, gerakan perupa di Surabaya agaknya belum bisa dijadikan wacana mazhab baru, karena selama ini mereka masih bergerak dalam tataran individual dan sebagian pada komunitasnya sendiri-sendiri.
"Karena itu, kalau wacana mencari mazhab seni rupa Surabaya saya kira masih jauh. Mazhab itu akan muncul jika ada perguliran pemikiran yang terus menerus. Di Surabaya, diskusi seni rupa semacam ini dalam lima tahun terakhir sangat jarang," kata dosen seni rupa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya itu.
Selain itu, katanya, literatur seni rupa di Surabaya juga sangat minim. Hal ini berbeda dengan Yogyakarta maupun Bandung yang dalam satu tahun bisa terbit sampai lima buku mengulas masalah seni rupa.
"Masalah lain yang kita hadapi adalah belum siapnya infrastruktur seni rupa di Surabaya, termasuk bangunan jejaring dengan luar negeri. Kalau jejeraing terbentuk, maka perupa asing akan berbondong-bondong untuk berkolaborasi dengan seniman Surabaya," katanya menambahkan.
Menurut dia, sebenarnya dari sisi seniman yang saat ini sekitar 300 orang, Surabaya sudah cukup, termasuk kolektor besar yang berani membeli karya seni rupa hingga senilai Rp9 miliar.
Masalah mazhab seni rupa Surabaya itu, digulirkan oleh budayawan sekaligus kolektor lukisan, Henky Kurniadi yang juga menjadi pembicara dalam diskusi tersebut. Hal itu didasari sejarah berkembangnya ekonomi, politik dan budaya yang banyak dimulai dari Surabaya.
"Ada Soekarno, HOS Cokroaminoto dan lainnya yang bermula dari Surabaya. Dari sisi ekonomi, sangat banyak pebisnis sukses yang memulai dari Surabaya. Demikian juga dengan seni budaya. Leo Kristi dan Gombloh lebih dahulu mengenalkan lagu balada ketimbang Iwan Fals," katanya.
Karena itu, tidak berlebihan kalau seni rupa juga perlu mencari mazhab Surabaya, selain yang sudah menjadi arus utama saat ini, yakni Yogyakarta dan Bandung.
Menurut dia, saat ini, Surabaya belum memiliki institusi pendidikan kesenian yang berwibawa seperti Yogyakarya dan Bandung. Karenanya, semua insan seni harus berkumpul untuk berpolemik mengenai mazhab itu.
"Ayo kita susun bersama mengenai kemungkinan mazhab baru ini. Jangan hanya melihat ke Bandung dan Yogyakarta saja," katanya berharap.
(T.M026/B/C004/C004) 03-12-2008 16:07:54
blog: http://artculture-indonesia.blogspot.com
-----------------------
Art & Culture Indonesia (ACI) peduli pada pengembangan seni budaya Nusantara warisan nenek moyang kita. Warna-warni dan keragaman seni budaya Indonesia adalah anugerah terindah yang kita miliki. Upaya menyeragamkan dan memonopoli kiprah seni budaya Indonesia dalam satu pemahaman harus kita tentang mati-matian hingga titik darah penghabisan.
| Mas moderator, tolong yang tadi dihapus. Ini yang benar. Terimakasih. BUNGKUSAN HATI DI DALAM KULKAS Teater Salihara, Selasa, 16 Desember 2008 Pukul 20.00 – selesai Dalang: Ki Catur Kuncoro Sinden: Soimah Poncowati Rancang Wayang dan Imaji Visual: Eko Nugroho Ide Cerita dan Naskah: Joned Suryatmoko Desain Panggung: Andy Seno Aji Penata Musik: Yenu Ariendra Manajer Panggung dan unit Produksi: Vindra Diratara Staff Panggung: Darmanto Setiawan Pendukung Produksi Pimpinan Produksi: Alia Swastika Dokumentasi: Oki Permata Sari dan Desi Suryanto Desain grafis: Sari Handayani Karya ini berangkat dari keinginan untuk menjelajahi kemungkinan yang lain dari wayang, baik dalam hal bentuk maupun cerita. Jika mempelajari sejarah wayang, terutama yang berkembang setelah abad 20, kita melihat bahwa wayang digunakan juga sebagai medium yang bisa menjadi ruang untuk mendiskusikan persoalan-persoalan aktual dalam masyarakat. Misalnya, ada yang disebut wayang revolusi, yang menceritakan tentang hubungan Indonesia- Belanda, dan mengadopsi karakter-karakter manusia pada masa itu. Keinginan kami adalah menimbang kembali bentuk wayang, memberinya muatan yang kontekstual dan menyuguhkan pertunjukan wayang dalam sensibilitas yang kontemporer. Sebagai dalang, Catur Kuncoro tetap memanfaatkan format pewayangan, terutama dalam hal bayangan (shadow), dan juga bentuk wayang yang dimainkan di tangan. Yang terutama berubah adalah karakter-karakter wayang, yang akan menggunakan karakter yang khas dari Eko Nugroho, seorang seniman visual. Karakter-karakter Eko yang merupakan pembacaan atas situasi sosial kontemporer yang akan menggantikan karakter dalam wayang klasik. Ketertarikan Eko atas bentuk-bentuk kekerasan dalam kehidupan sehari-hari, atau potret-potret ironi kehidupan masa kini, akan menjadi gagasan dasar yang membangun "cerita" dalam pertunjukan. Humor, sarkasme dan cerita-cerita lokal akan dikombinasikan dengan refleksi-refleksi tentang manusia modern. Kami tertarik mempresentasikan lintasan-lintasan peristiwa keseharian, yang barangkali kecil dan seringkali terlupakan, yang menunjukkan bagaimana kekerasan menjadi sesuatu yang sekarang ini semakin diterima dan membudaya dalam masyarakat. Dengan tata panggung oleh Andy Seno Aji dan musik garapan Yenu Ariendra, pertunjukan ini akan menyuguhkan sebuah cara lain melihat kenyataan sehari-hari dalam kehidupan kita. Bagaimana hal-hal domestik yang kecil dan nyata sering terlupa, terlindas oleh berita-berita besar yang melibatkan orang-orang besar. Sebagai bintang tamu, Soimah Poncowati akan berpartisipasi pula dalam pertunjukan ini. Tiket Rp 50.000,00 dan Rp 30.000,00 mahasiswa Rp 15.000,00 Pemesanan melalui Alia Swastika 081802771307 atau Vindra Diratara 081328787553 Atau dapatkan ditempat pertunjukan |
(emha ainun nadjib)